Sabtu, 19 Mei 2012

Black Box dan Pesawat Sukhoi Superjet 100

Beberapa waktu yang lalu, berita jatuhnya Pesawat Sukhoi sempat menjadi topik pembicaraan yang hangat dikalangan masyarakat. Bahkan beberapa media massa, baik media cetak maupun media elektronik menjadikan kisah tragis  jatuhnya Pesawat Sukhoi SuperJet 100 sebagai headline news. Sehingga tidak heran jika semua orang ramai membicarakan peristiwa ini.

Sebuah media elektronik (merdeka.com), menjelaskan bahwa pada hari Rabu, 9 Mei 2012, pesawat Sukhoi SuperJet 100 terjatuh saat sedang melaksanakan demonstrasi penerbangan atau joyflight. Pesawat dengan nomor penerbangan RA36801, berangkat dari bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada pukul 14.12 WIB dengan mengangkut 45 orang. Delapan orang diantaranya adalah awak pesawat dari Rusia dan beberapa penumpang lainnya adalah dari media massa dan utusan perusahaan dari bidang penerbangan di Indonesia. Sukhoi superjet 100 (SSJ100)  diperkirakan terjatuh setelah menabrak tebing di puncak Gunung Salak, Bogor. Pesawat ini mengalami kecelakaan beberapa saat setelah putus komunikasi dengan pusat pengaturan lalu lintas udara atau Air Traffic Centre (ATC).

Diketahui bahwa Sukhoi SuperJet 100 adalah salah satu pesawat terbaru di Rusia dan merupakan pesawat penumpang pertama yang dikembangkan pasca bubarnya Uni Soviet. Pesawat ini ditunjukan untuk menggantikan Tupolev Tu-134 dan Yakovlev Yak-42 yang merupakan peninggalan Uni Soviet yang sering mengalami kecelakaan. Pesawat nahas itu dikemudikan oleh pilot senior dari rusia Alexander Yablontsev dan co pilot Alexander Kocetkov. Mereka sudah menerbangkan pesawat itu dari Rusia, Kazakhstan, Pakistan, dan Myanmar. Namun, keduanya baru pertama kali menerbangkan pesawat tersebut di wilayah Indonesia.

Tragedi kecelakaan pesawat Sukhoi SuperJet 100 ini menimbulkan banyak persepsi mengenai penyebab jatuhnya pesawat tersebut. Koordinator Rescue PT Dirgantara Indonesia Bambang Munardi memperkirakan bahwa pesawat Sukhoi Superjet-100 jatuh karena masuk ruang hampa. Inilah yang menjadi alasan pilot untuk meminta izin turun. Lebih jauh Bambang menjelaskan bahwa kemungkinan masuk ruang hampa udara di ketinggian antara 10.000 kaki sampai 6000 kaki. Sangat sulit untuk mempertahankan keseimbangan pesawat dalam kondisi seperti itu. Pilot harus memiliki keahlian khusus. Selain itu, pesawat juga harus punya teknologi untuk mengatasi masalah tersebut. Sementara itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) lebih menfokuskan penyelidikan jatuhnya Sukhoi Superjet 100 RA-36801 pada ada atau tidaknya izin untuk menurunkan ketinggian pesawat dari 10.000 kaki ke 6000 kaki.

Bahkan seorang penulis di Kompasiana.com, Seand Munir, mengemukakan pendapatnya sendiri. Menurutnya, pesawat Sukhoi Superjet 100 jatuh karena mengalami beberapa ganguan sinyal. Ganguan ini disebabkan karena beberapa penumpang yang mengaktifkan telepon seluler (ponsel) saat pesawat sedang terbang. Analisa ini terbukti, kata beberapa saksi, sejumlah panggilan ke ponsel mereka ternyata tersambung namun tidak diangkat. Padahal hal ini sangat tidak diperbolehkan dan bisa membahayakan penerbangan. Sebuah data dari Aviation Safety Reporting System (ASRS) menyatakan bahwa sinyal ponsel dapat menggangu pesawat saat take off hingga landing. Mulai dari gangguan sistem navigasi, gangguan frekuensi komunikasi, gangguan idikator bahan bakar, gangguan sistem kemudi otomatis, serta gangguan sistem yang lainnya.

Untuk diketahui, posel tidak hanya mengirim dan menerima gelombang radio melainkan juga meradiasikan tenaga listrik untuk menjangkau BTS (Base Transceiver Situation). Sebuah ponsel dapat menjangkau BTS yang berjarak 35 kilometer. Artinya, pada ketinggian 30.000 kaki, sebuah ponsel bisa menjangkau ratusan BTS yang berada di bawahnya.

Keesokan harinya, pada pukul 08.30 wib, serpihan bangkai pesawat SSJ100 berhasil ditemukan oleh Tim SAR di koordinat yang sama pada saat pesawat putus komunikasi dengan ATC. Berdasarkan informasi tersebut, kemudian segera dibentuk tim evakuasi untuk membantu korban sekaligus mencari tahu penyebab jatuhnya pesawat. Proses pencarian dan evakuasi juga melibatkan satuan Kopassus, yaitu 6 orang Tim Charlie yang dipimpin oleh Lettu. Taufik. Dari pencarian tersebut akhirnya ditemukan Black Box (Kotak Hitam) yang dianggap dapat mengetahui jatuhnya pesawat sukhoi. Taufik menceritakan kronologi penemuan kotak hitam itu. Awalnya, Tim Charlie Kopassus yang berjumlah lima orang menyisir dasar jurang dan tebing Gunung Salak yang menjadi lokasi kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 pada hari Rabu. Taufik mengatakan bahwa, kotak hitam ini ditemukan pukul 16.40 wib di dekat potongan ekor pesawat. Kondisi kotak hitam itu sudah terbakar. Sebagian besar kotak yang bisa merekam percakapan pilot, ketinggian, dan kecepatan pesawat tersebut juga sudah menghitam akibat terbakar. Untuk mengangkat kotak hitam itu, tim juga terpaksa harus menggunakan tali yang langsung diangkat menuju helikopter Super Puma milik TNI Angkatan Udara.

Black box atau kotak hitam merupakan bagian dari pesawat yang dapat memberikan informasi mengenai peristiwa jatuhnya pesawat. Benda ini berfungsi merekam semua kejadian yang terjadi di pesawat, beberapa saat sebelum pesawat itu hancur. Sehingga melalui rangkain rekaman komunikasi dalam pesawat diharapkan dapat deketahui secara pasti penyebab jatuhnya pesawat.

PENJELASAN
Kotak hitam atau black box, menurut wikipedia ensiklopedia adalah sekumpulan perangkat yang digunakan dalam bidang transportasi, umumnya merujuk kepada perekam data penerbangan (flight data recorder; FDR) dan perekam suara kokpit (cockpit voice recorder; CVR) dalam pesawat terbang.

Fungsi dari kotak hitam sendiri adalah untuk merekam pembicaraan antara pilot dan pemandu lalu lintas udara atau air traffic control (ATC) serta untuk mengetahui tekanan udara dan kondisi cuaca selama penerbangan. Walaupun dinamakan kotak hitam tetapi sesungguhnya kotak tersebut tidak berwarna hitam melainkan berwarna jingga (oranye). Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pencarian jika pesawat itu mengalami kecelakaan. Penempatan kotak hitam ini dilakukan sedemikian rupa sehingga mudah ditemukan. Umumnya terdapat dua unit kotak hitam yang diletakkan pada bagian depan pesawat dan bagian ekor pesawat, yang diyakini merupakan bagian yang utuh ditemukan.

Istilah kotak hitam muncul ketika selepas pertemuan mengenai perekam penerbangan komersial pertama yang dinamai "Red Egg" karena warna dan bentuknya, seseorang berkomentar: "Ini adalah kotak hitam yang menakjubkan". Kotak hitam adalah istilah yang lebih humoris dan hampir tidak pernah digunakan dalam industri keselamatan penerbangan. Perekam ini secara umum tidak berwarna hitam, namun biasanya oranye terang agar mudah dicari dan ditemukan setelah terjadi suatu insiden.

Sejarah Lahirnya Kotak Hitam (black box)
Pada tahun 1953, David Warren seorang Ilmuwan Aeronautical Research Laboratory (ARL) di Australia, menggagas pembuatan sebuah alat perekam percakapan antara pilot dengan kru selama penerbangan. Hal ini terinspirasi saat sebuah pesawat jet jatuh di India dan tidak dapat diketahui penyebabnya.

Alat ini ini bisa merekam suara pilot dan semua data yang diterima dari 8 alat yang berbeda. Semua data ini bisa dipisah dan menghasilkan data yang akurat tentang penyebab kecelakaan. Alat ini kemudian dirancang untuk digunakan dalam perawatan dan pemeliharaan pesawat. Kemudian alat rekaman ini dimasukkan ke dalam kotak baja yang kuat untuk menjaga agar tidak ikut hancur ketika kecelakaan pesawat. Kotak ini juga dilapisi asbes tahan api sehingga kabel-kabelnya tidak ikut rusak karena panas.

Kotak hitam atau black box terdiri dari dua bagian utama, yaitu Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voicer Recorder (CVR). Flight Data Recorder (FDR) berisi parameter yang berhubungan dengan semua teknis penerbangan yang dipantau melalui beberapa sensor. Sedangkan Cockpit Voicer Recorder (CVR) berisi tentang semua rekaman suara antara pilot, co pilot, dan semua kru penerbangan serta suara mesin-mesin lainnya yang berada di cockpit.

Cara kerja mesin ini adalah dengan mengolah dan menganalisa data yang diterima oleh FDR dan CVR. Seluruh data yang dikumpulkan oleh sensor sensor di pesawat terbang di kirim ke flight-data acquisition unit (FDAU) yang terletak di ekor pesawat. FDAU inilah sebagai perantara sebelum data di simpan dalam kotak hitam. Untuk dapat dianalisa, data dan FDR dan CVR dibaca dengan menggunakan peralatan dan piranti lunak khusus. Proses untuk menganalisa data tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama, berkisar antara mingguan bahkan bisa sampai berbulan-bulan. Bahkan pada kasus Sukhoi Superjet 100 diketahui bahwa untuk mengidenfikasi rekaman pada kotak hitam pesawat ini membutuhkan waktu sampai satu tahun atau 12 bulan. Ketua Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Tatang Kurniadi mengatakan untuk menginvestigasi dan meneliti isi dari pesan yang terekam di flight recorder atau kotak hitam membutuhkan waktu minimalnya 12 bulan. “Kami membutuhkan waktu minimalnya sekitar 12 bulan untuk bisa mengungkap isi rekaman dari kotak hitam agar bisa mengungkap apa yang menjadi penyebab jatuhnya pesawat komersial Sukhoi Superjet-100 di kawasan Gunung Salak, Bogor pada Rabu lalu,” kata Tatang kepada wartawan, Rabu.

Dalam suatu situs (www.swat-online.com) dijelaskan bahwa pihak berwenang telah meneliti kotak hitam tersebut. Namun masih dibutuhkan informasi tambahan untuk melengkapi keteranggannya tersebut. Menurut Ketua KNKT, pihaknya sudah mulai melakukan penelitian terhadap bagian kotak hitam yang ditemukan yakni Cockpit Voice Recorder atau rekaman suara kokpit di laboratorium milik KNKT di Jakarta.

Selain itu, pihaknya juga masih menunggu bagian lain dari kotak hitam yakni Flight Data Recorder atau rekaman data terbang yang saat ini masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan.

“Penelitian ini sudah kami lakukan, dengan ditemukannya CVR sudah bisa mengungkap bagaimana kondisi pesawat dan penumpang dari sebelum terjadinya kecelakaan sampai penyebab pesawat tersebut bisa terjatuh,” tambahnya.

Namun, dikatakan Tatang lebih baik lagi FDR juga ditemukan dan kemudian dilakukan penelitian sehingga hasilnya bisa lebih jelas untuk mengungkap peristiwa jatuhnya pesawat buatan Rusia di Gunung Salak.

Jadi masih memerlukan waktu untuk mencari dan mengidntifikasi CVR yang sudah ditemukan. Paling tidak untuk waktu dekat KNKT sudah bisa meneliti rekaman suara pada CVR pesawat Sukhoi Superjet 100.

KESIMPULAN
Saat ini, kotak hitam atau black box merupakan benda utama yang harus ditemukan pasca terjadinya suatu kecelakaan pesawat. Banyak peristiwa kecelakaan pesawat yang kemudian dapat diketahui penyebab terjadinya kecelakaan tersebut, dari informasi yang ada pada black box.

Seperti pada kasus kecelakaan pesawat sebelumnya. Yaitu Garuda Indonesia dan Pesawat Adam Air yang jatuh lima tahun lalu. Berhasil diketahui penyebab kecelakaan melalui informasi yang diperoleh dari kotak hitam pesawat tersebut.

Kotak hitam atau Black Box merupakan bagian dari pesawat yang dapat memberikan informasi mengenai jatuhnya pesawat. Benda ini berfungsi merekam semua komunikasi di dalam pesawat antara pilot dan co pilot serta semua kru penerbangan dan suara mesin-mesin lainnya yang berada di cockpit. Benda ini pertama kali dibuat pada tahun 1953, oleh seorang Ilmuwan Aeronautical Research Laboratory (ARL) di Australia bernama David Warren.

Cara kerja alat ini hampir sama dengan mesin perekam. Yaitu merekam semua jalur komunikasi yang terjadi di dalam pesawat. Sehingga dari rekaman komunikasi yang berlangsung, dapat diketahui penyebab jatuhnya pesawat. Kotak hitam atau black box terdiri dari dua bagian utama, yaitu Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voicer Recorder (CVR). Kedua komponen ini berfungsi mengumpulkan data komunikasi yang akan diolah menjadi informasi. Sehingga nantinya dapat diperoleh kesimpulan mengenai penyebab terjadinya kecelakaan pesawat terbang.

Sesuai namanya, CVR ini merekam data-data percakapan pilot di dalam kokpit. CVR ini ada 4 saluran yang merekam percakapan: Saluran 1 terhubung dengan pengeras suara yang biasa digunakan pramugari kepada penumpang Saluran 2 terhubung dengan co-pilot. Saluran 3 terhubung dengan pilot yang terhubung dengan air traffic controller (ATC). Saluran 4 merekam seputar suasa kokpit, misalnya mesin yang berisik atau hujan.

Sedangkan FDR berfungsi untuk merekam data-data penerbangan. alat ini merekam data-data teknis pesawat seperti ketinggian, kecepatan, putaran mesin, radar, auto pilot dan lain-lain. Ada 5 sampai 300 parameter data penerbangan yang direkam dalam kotak hitam ini.
FDR mempunyai durasi rekaman hingga 25-30 jam. Artinya setelah 25-30 jam, data akan terhapus dengan sendirinya. Data yang diperoleh lantas ditampilkan dalam bentuk grafik maupun transkrip apabila data tersebut berupa percakapan. Kemudian data bisa divisualkan dengan animasi melalui software, yang salah satunya bernama Insight View. Dengan demikian bisa diperkirakan posisi pesawat terakhir sebelum kecelakaan. CVR dan FDR ini akan hidup secara otomatis apabila mesin pesawat dihidupkan.

Sesungguhnya, hasil analisa dari Black Box bukanlah satu-satunya sumber untuk dapat menyimpulkan penyebab suatu kecelakaan. Perlu juga menggabungkan dan mengsinkronisasikannya dengan berbagai macam temuan lainnya untuk dapat menyimpulkan secara utuh dan komprehensif penyebab peristiwa kecelakaan suatu pesawat.






Kamis, 22 Maret 2012

=GLORY AKMIL=

assalamualikum wr.wb

ahhaaiii,, long time no see. Anyone missing me...?? #gerrhh!!!

Lama tak jumpa, bukan berarti kami sirna dari dunia yang fana ini. Perlu konsentrasi mendalam untuk mencurahkan kabar bahagia ini kepada khalayak ramai. Ehm..ehm.., test test. Oke para muda radio Untul Munyuk (UM) 18,6 MSM,,Zzz...zzZZzz...!! Ups nampaknya terjadi gangguan singal para muda..!!





Oke, jadi tema untuk posting saya kali ini adalah tentang Kejayaan Tim Piktar Akademi Militer dalam ajang Pekan Integrasi Dan Kejuangan Taruna (PIKTAR). Piktar merupakan ajang pertaruhan gengsi antar Taruna, baik AAL, AAU, Akpol, dan AKMIL. Mereka bersaing dalam materi Olahraga, Akademik, dan materi militer lainnya seperti menembak dan Cross Country. Dalam kegiatan Piktar yang diadakan bulan November 2011 lalu, di Markas Akademi Angkatan Udara, Maguwo, Jogjakarta, tim Akmil menjadi juara umum setelah mengumpulkan medali terbanyak di antara kontingen lainnya. Yaitu, 25 medali emas, 17 perak, dan 10 perunggu. Sementara kontigan tuan rumah AAU harus puas diurutan kedua dengan 11 emas, 14 perak, dan 13 perunggu.Posisi ketiga ditempati kontingen Akademi Kepolisian (Akpol) setelah memperoleh 3 emas, 4 perak,dan 6 perunggu.




Sedangkan urutan keempat ditempati kontingen Akademi Angkatan Laut (AAL) dengan 1 emas, 5 perak,dan 11 perunggu. Marsda TNI Sru A Andreas mengatakan, selain sebagai bentuk integrasi,kegiatan ini juga diisi dengan kegiatan seminar dan diskusi. Perhelatan yang melibatkan seluruh taruna Akademi TNI dan Akpol ini juga dijadikan ajang melatih dan mengembangkan daya kreasi dan kadar intelektual taruna.






Khusus untuk Tim Renang,,"hahahaaa...eng..ing..eng..!!"
Dari 13 nomor lomba yang dipertandingkan,,syukur alhamdulillah dengan luar biasanya tim renang akmil berhasil menggondol 10 nomor. Dengan demikian tim renang akmil berhak membawa pulang 10 emas, 2 perunggu, dan 2 perak. Prestasi ini sekaligus telah melampaui rekor pencapaian tim renang pada Piktar 2009 yang diadakan di Akademi Militer, magelang. Pada waktu itu Tim Renang Akmil sukses mencuri 9 emas dan berhasil menjadi juara umum. Hehehehe...!!


Tak sia-sia usaha kami selama ini,,,
Bravo Akmil, Glory Tim Renang..,,
I miss You All,

Kamis, 22 Desember 2011

:: PARA DASAR ::


“ Bila apel malam telah tiba, segera bacakan penerjunan.
Hatiku dag dig dug tak karuan, memikirkan nasib mu seorang....”

 
Potongan bait lagu Para mengingatkan saya akan kegiatan waktu lampau yang telah saya lakukan. Bersama dengan rekan-rekan saya, kami berangkat dari Kota Magelang menuju Kota Bandung. Berbekal satu buah Ransel dan satu buah Ponyo Sak serta ditambah satu buah tas pesiar, rombongan kami segera meluncur dari markas Akademi Militer menuju Stasiun Jogjakarta. Berangkat dari Stasiun Jogjakarta menuju Stasiun St.Hall, Bandung.

Tujuan kami bukan BIP, PVJ, apalagi Pasar Baroe. Markas KOPASSUS, Batujajar adalah muara perjalanan kami. Disanalah pusat pelatihan Pendidikan Dasar Para diselenggarakan. Pagi hari kereta yang kami gunakan sampai di Stasiun Kota Bandung. Disana kami disambut oleh Rombongan Pasukan Baret Merah, lengkap dengan helaian selang ditangannya. GeeEeerrRrr, seketika itu pula naluri tempur kami kembali memuncak, dentuman jantung kami bertetak cepat ( jep..ajeb..ajeb..ajeb ). Rombongan kami berlarian keluar dari stasiun menuju truck yang telah disediakan oleh sekolah para. Dari stasiun kami segera diangkut menuju Batujajar.

Hari pertama kita lewati dengan biasa saja. Belum ada yang special. Hanya Orientasi dan perkenalan para Pelatih dan perangkat yang terlibat disana. Keesokan harinya kegiatan kami dimulai dengan materi pelajaran teori di kelas, atau lebih tepatnya kita sebut Hanggar. Beberapa hari berlalu, pelajaran kelas usai, dilanjutkan dengan materi lapangan, atau Ground Training. Disinilah inti dari kegiatan ini. Ground Training dilakukan dengan tujuan untuk melatih siswa agar siap untuk melaksanakan Terjun Payung. Mulai dari pembinaan fisik, penguatan kaki, tehnik terjun dan mendarat yang benar, Sewor Kanan-Kiri, serta materi-materi lain yang sangat menantang.

Memasuki minggu ketiga, kami mulai dibekali dengan tehnik terjun. Sedikit demi sedikit kami diajak untuk melakukan praktek terjun kecil-kecilan, hingga nyaris mendekati ketinggian sebenarnya. Dari mulai Swing Landing, Kipas Pendarat, Mug Tower, dan yang paling tinggi adalah Jump Tower. Di sinilah kami benar-benar merasakan manfaat pembinaan yang dilakukan selama 2 minggu sebelumnya. Karena walaupun kami mendarat menggunakan parasut, ternyata kami juga perlu menggunakan tehnik-tehnik khusus untuk mendarat dengan benar supaya tidak cidera.

Saat yang ditunggu datang, hari pertama terjun menggunakan Pesawat sebenarnya. Mungkin sama dengan siswa yang lain, perasaan takut mengiringi penerbangan kami di hari pertama terjun. Dalam hati bertanya-tanya, “apa yang akan terjadi?. Payung saya ngembang gak ya?” dan lain-lain. Namun rasa penasaran kami mengalahkan segalanya.  

“Kriiing......!!!” Sirine pesawat pun berbunyi, lampu hijau tanda penerjunan siap dimulai, juga sudah menyala. Pintu pesawat terbuka, hembusan dan gemuruh suara angin menambah sensasi penerjunan saat itu. Penerjun pertama berisiap didepan pintu. Aba-aba dari Jump Master ( jump master ini orang yang bertugas menerjunkan atau lebih tepatnya melempar kita keluar dari pesawat ), penerjun pertama pun hilang seketika keluar dari pesawat. Disusul dengan penerjun kedua, kediga, keempat, dan seterusnya. Hari pertama penerjunan selesai, seluruh personl berhasil dilempar dan mendarat dengan selamat.

Kegiatan terjun tersebut berlangsung selama tujuh hari. Materi terjunnya pun bervariasi, yaitu 3 kali terjun siang, 1 kali terjun container, 1 kali terjun container plus senjata, 1 kali terjun malam, dan terakhir adalah 1 kali terjun Wing Day. Total penerjunan adalah sebanyak 7 kali. Mantabs sudah !!

Kesan : Para Dasar merupakan kegiatan yang sangat luar biasa. Ibarat sebuah permainan, mungkin Halilintar atau Tornado yang ada di Dufan itu gak ada apa2nya. Sensasi ketika keluar dari pintu pesawat adalah seperti : Berikut saya simulasikan situasi dan ekspresi di dalam pesawat sampai kami dibuang dari pesawat.
Berdasarkan pengakuan narasumber.
“Kriiiiinggg....!!!” ( sirine berbunyi mengiringi gemuruh suara pesawat )
Jump Master : “Persiapan, merapat semua merapat, waspada tali di blkg kalian”
“Grreeekkk....whussshhh..” ( pintu terbuka seketika hembusan angin berhimpun masuk ke pesawat )
Taruna : “Bismillah....Bismillah...Ya Allah ampuni lah dosa hamba selama ini.”
Jump Master : “Go..Go.. (sambil melempar penerjun satu per satu) ..go..Go..merapat..merapat...”
::ekspresi setelah keluar dari pesawat::
Penerjun : “Astaghfirullah...ehm..(sambil menutup mata, tahan nafas, nyawa hilang beberapa detik), ...eGhrrr...”
Setelah 4 detik keluar dari pesawat,
Penerjun  membuka mata sambil lihat sekeliling, ....suara berubah menjadi hening....penerjun berkata “Alhamdulillah”, mulailah dia mengemudikan payungnya, mengarah pada sasaran pendaratan.,...!!

Kurang lebih seperti itulah gambaran kami saat melaksanakan kegiatan para dasar kemarin. Tak seharusnya kami tuangkan Ekspresi kami melalui media tulis n cerita. Karena sensasinya tidak akan sama dengan apabila anda melakukannya sendiri. Trust Me !!

Pesan : dihimbau kepada rekan-rekan, rekanita dan kerabat alangkah baiknya membeli tiket sebelum naik pesawat, pastikan tiket yang anda beli itu asli dan belum expired. Karena jika salah, akibatnya bisa seperti kami, di lempar dari pesawat gara-gara gak bayar tiket pesawat. *canda saja !!

Kamis, 06 Oktober 2011

:: NARSIS ITU INDAH ::

...renmil nya kuat, renum nya cepat...

...di air hebat, di darat dahsyat...




we are d'dream team of military academy.


Berawal dari sebuah keluarga kecil yang hidup dalam keterasingan. Di bawah Bukit Tidar yang berdiri kokoh sebagai pusat inti pulau jawa. *begitu kata nya.
Inilah "Swimming Team '11 Brotherhood"




Dengan bermodal fisik yang kuat, diiringi mental juang tinggi, hingga akhirnya terbentuk lah sebuah tim renang impian. Percayalah kami benar-benar terlatih untuk ini. Ini lah kami sang multitalenta.





Dengan rutinitas ini, tanpa kami sadari perlahan tapi pasti, secara fisiologi dan morfologi bentuk badan kami pun mengalami perubahan yang sangat signifikan. Dari mulai warna kulit yang dulu cerah kini menjadi semakin gelap karna terbakar sinar matahari. Dada yang bidang dengan sudut elevasi 25 derajat. Ditambah perut six pack ala bintang L-Men, 'Damn it. I can't believe it'. Belum lagi pundak dan bentuk batang leher yang kokoh. *trust me, it's cool you know !



Dengan kemampuan yang kami miliki ini, kami berharap mampu meraih hasil yang maksimal guna mengharumkan Keluarga Besar Lembah Tidar. Ini lah kami "Swimming Team From Military Academy"




NB : Cerita ini hanya fiktif belaka. Sekedar mengisi kekosongan waktu dari pada jenuh hingga akhirnya berfikiran untuk melakukan pelanggaran. Trimakasih telah membaca dan tersenyum untuk kami. Doakan kami semoga sukses dalam tugas bergengsi ini. Amin !

msm-186





Jumat, 02 September 2011

= Cuti Berakhir Kawand =


Jadi kalo lagi event libur panjang atau cuti gini, sebenernya sangat cocok sekali dimanfaatkan taruna untuk beristirahat, baik fisik maupun pikiran. Yang selama di akademi mempunyai masalah, segera diobati dan diselesaikan masalahnya. Istirahat sejenak dari seabrek kegiatan di lembaga pendidikan. Nah sayangnya kenyataannya tak demikian. Taruna lebih memilih untuk tidak menyianyiakan waktu yang ada, dengan cara mengisi hari-hari nya dengan segudang kegiatan. Bahkan terkadang mereka harus tidur larut malam karena aktivitasnya yang begitu banyak. “kapan lagi bisa kaya gini. Ayo kawand, waktu kita tak banyak. Jangan sia-siakan waktu yang ada”, begitulah kurang lebih semangat percakapan taruna saat cuti panjang. Jadi akibatnya, pulang kembali cuti bukannya tambah seger malah tambah gak jelas. Yah, inilah kami. Ahaaha,,!!!

Tapi menurut saya, ini semua bukan 100% murni kesalahan taruna. Mereka yang sehari-harinya sibuk dengan kepenatnya di lembaga, dengan fasilitas dan hiburan yang terbatas, wajar bila akhirnya mereka menjadi ‘bablas’. Ibarat burung yang baru lepas dari sangkarnya, maka ia akan terbang bebas tanpa batas menikmati indahnya dunia yang penuh dengan hiburan dan fatamorgana. *two tumbs up*

Apalagi kalo udah mepet2 waktu kembali cuti. Nah lo, seolah-olah kaya dikejar-kejar “deadline” cuti. Maka makin jelaslah,”lebih baik begadang dari pada waktu yang tersisa menjadi sia-sia jika hanya dipakai untuk tidur”, bodohnya taruna !! Nah sekarang pas hari H kembali cuti. Entah kebiasaan atau sudah menjadi kutukan. Bahwasanya segala penyakit tiba-tiba muncul dan hinggap pada tubuh taruna ketika hendak meniggalkan kediamannya kembali menuju Akademi Militer. Terlebih setelah anda memasuki area kota Magelang. Kehadiran anda langsung disambut dengan keindahan Gunung Tidar. Bisa dibilang kalo G. Tidar adalah pemandangan terindah yang sebenarnya tak ingin kami lihat. Dari luar perbatasan magelang, kurang lebih setelah anda menempuh 15 menit perjalanan, anda sudah tiba di depan kampus Akademi Militer. ‘Abrakadabra’, kehadiran anda sudah disambut oleh kokohnya gerbang akmil. Gerbang inilah yang menjadi penentu dan pembeda antara dua dunia. Ya, dunia luar yang menawarkan keindahan dan kebebasan dan dunia akademi militer yang sarat akan semangat perjuangan para putra bangsa. Selamat datang kembali di zona militer. “Busungkan dada mu, langkah pertama teriak “TARUNA””.

Dengan demikian berakhirlah apa itu yang disebut hari libur. Selamat tinggal kesenangan, selamat tinggal kebebasan, selamat tinggal dunia luar. Tetaplah kau disana dengan sejuta pesona yang ada. Jika masih mungkin kesempatan itu datang lagi, percayalah kami akan datang kembali.