Kamis, 31 Januari 2013

:: Sebut Saya "Anjing" ::


 Rasa rindu itu memang baru akan terasa setelah lama kita tidak berinteraksi dengan item itu. Misalnya kalo anda punya kucing peliharaan, tiba-tiba suatu hari anda harus pergi keluar kota meninggalkan kucing tersebut. Niscaya pasti suatu saat akan datang rasa rindu anda kepada kucing peliharaan anda itu. Atau rekan-rekan diluar sana yang setiap hari selalu bersama dengan pacarnya, dan tiba-tiba suatu hari cewe kamu harus meninggalkan kamu karena orang tua cewe kamu sudah terlanjur menerima lamaran dari seorang duda tua dan kaya raya (tetep aja tua), sehingga cewe kamu terpaksa harus menikah dengan duda itu dan meniggalkan kamu untuk selamanya. Kemudian kamu dipaksa untuk datang menyaksikan pernikahannya, tapi kamu menolak dan memilih untuk pergi jauh meniggalkan kampung halaman kamu dan merantau ke negeri tetangga untuk menjadi TKW. Maka percayalah suatu hari ketika kamu sedang nyuci baju majikan mu di negeri seberang sana, atau kamu sedang membersihkan mobil pribadinya, atau sedang mengganti popok anak majikan kamu disana, atau ketika kamu sedang disiksa sama majikanmu disana, kamu akan teringat masa-masa indah bersama pacar kamu dulu, percayalah itu indah sekali. Sama halnya dengan saya yang cukup lama meninggalkan kebiasaan “ngetik” saya, membagi cerita saya, dan mengabadikannya dengan cara mempublikasikan supaya bisa dinikmati oleh orang lain. Nah inilah rindu yang saya rasakan sekarang. Karena itu malam ini saya mencoba kembali membuat sebuah “ketikan” untuk mengobati rindu itu.

Tidak ada hal menarik sebenarnya tentang cerita yang akan saya bahas kali ini. Namun barang kali bisa menjadi sebuah pelajaran yang tidak akan pernah kalian dapatkan di bangku perguruan silat manapun.
Saya “anjing”, silahkan anda panggil saya dengan sebutan itu. Nama itu baru saja saya dapatkan dari seorang pejabat di lembaga tempat saya belajar, pagi tadi. Unik memang kedengaranya, tapi inilah fenomena yang terjadi. Sebelumnya kami (saya dan rekan-rekan) juga pernah disebut “sapi, babi, dan monyet”. Lama-lama kami berfikir, “apakah lembaga ini kebun binatang ?”.

Yang lebih menarik adalah ketika suatu hari pada waktu kami sedang mengikuti pengarahan dari seorang pejabat di lembaga tempat saya belajar. Tiba-tiba beliau mengeluarkan sepatah kata yang mengisyaratkan sebuah sebutan bagi kami, yaitu “Brengsek”. Ya betul, kami adalah “Brengsek” menurut beliau. Sebuah tittle baru yang belum pernah ada sebelumnya. lucu ketika mendengar ‘celetukan’ seorang rekan yang berkata,”Senangnya disebut Brengsek, berarti gw bukan Homo” (Kutipan kalimat Raditnya Dika). Paling tidak kita harus tetap bersyukur karena kita  sedikit naik kasta, yaitu dari nama binatang menjadi sebuah umpatan kekesalan.

Pesan yang ingin disampaikan adalah, Pertama, pandai-pandailah dalam menjaga tutur kata kamu. Karena kamu tidak bisa melihat isi hati orang didepan kamu. Kedua, bijaksanalah dalam bertutur kata. Karena belum tentu kamu lebih baik dari orang didepan kamu. Ketiga, apa yang kamu “lebel” kan pada orang lain, itulah yang akan dia bawa selamanya. Jadi selalu ingat bahwa “mulutmu adalah harimau mu”. Sehingga kita dapat lebih berhati-hati dalam bertutur kata.

Sekarang, Saya berada dalam sebuah lingkungan yang kondisinya memungkinkan untuk menggunakan kalimat dan kata-kata itu. Jadi saya sangat tidak keberatan apabila orang lain di sini menyebut saya dengan panggilan-panggilan itu. Disini kami belajar dan berlatih untuk menjadi kuat baik di luar maupun di dalam. Sehingga mohon pengertian bagi rekan-rekan diluar sana untuk tidak mengikuti apa yang kami lakukan. Terimakasih.

1 komentar:

macan kecil mengatakan...

izin mas, saya copas postingan ini dan di ubah beberapa katanya untuk mengisi blog saya yang kosong dan tidak berpenghuni. sekali lagi izin mas